Irigasi Jebol, Puluhan Hektar Lahan Pertanian di Bontonyeleng Terancam Tidak Bisa Digarap

Bulukumba, Beranda.News Sedikitnya 50 hektare lahan pertanian padi dan palawija di wilayah Desa Bontonyeleng, Kecamatan Gantarang, terancam tidak di garap pemiliknya, Pasalnya, saluran irigasi DI Tuli 3 yang berfungsi untuk mengairi lahan pertanian warga rusak atau jebol sepanjang 15 meter

Namun, ironisnya hingga saat ini irigasi yang jebol akibat bencana alam itu, belum juga mendapatkan bantuan perbaikan.

Kepala Desa Bontonyeleng, A.Baso Mauragawali mengatakan kepada wartawan, saat ini warganya tengah mengeluh dengan kondisi saluran irigasi DI Tuli 3 yang jebol akibat air deras saat hujan, Pasalnya akibat dari kondisi itu, puluhan hektare lahan pertanian di wilayah tersebut tidak terairi dengan maksimal karena air tidak sampai ke sawah warga.

“Irigasi ini rusak sudah beberapa bulan, akibat volume kiriman air dari hulu besar saat hujan deras hingga mengakibatkan irigasi jebol, Walaupun masyarakat turun perbaiki secara swadaya namun itu tidak bertahan jika hujan deras turun kembali. Beruntung musim ini masih ada hujan, jadi sawah petani masih bisa berair.Kata Opu

Lebih lanjut ia menjelaskan, saluran irigasi DI Tuli 3 ini, selain untuk mengairi lahan pertanian di Desa Bontonyeleng, Kecamatan Gantarang, juga kerap dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam di wilayah Desa Bukit Harapan, Kecamatan Gantarang. Namun, akibat irigasi tersebut jebol, nantinya lahan pertanian warga tidak bisa dikelola secara maksimal. Lantaran, air dari irigasi tersebut tidak sampai ke sawah warga.

“Irigasi yang jebol itu, panjangnya ada sekitar lima belas meter. Jadi, irigasi ini untuk mengairi lahan pertanian di dua Desa. Yakni Bukit Harapan dan Bontonyeleng Kecamatan Gantarang,” paparnya.

Sementara itu, salah satu petani, Rustam, menyebut saluran irigasi DI Tuli 3 itu merupakan salah satu akses air untuk lahan pertanian yang ada di wilayah Desa Bontonyeleng dan Bukit Harapan Kecamatan Gantarang, Untuk itu, saat ini para petani mengeluhkan kondisi saluran irigasi yang jebol itu.

Akibatnya telah berdampak pada lahan pesawahan warga menjadi tidak maksimal. Apalagi nanti saat musim kemarau, sudah pasti petani tidak bisa menggarap lahan pertaniannya.

“Kalau musim hujan seperti ini, warga masih bisa bercocok tanam dengan sistem sawah tadah hujan. Itu pun tidak maksimal. Sementara, kalau musim kemarau maka dapat dipastikan lahan disini terlantar. Tetapi ada juga petani yang mengalihkan cocok tanamnya dari tanaman padi ke tanaman palawija atau tanaman yang tidak banyak membutukan pasokan air,” imbuhnya.

Loading